Selasa, 12 Juni 2012

Mengembalikan Citra Pendidikan Kita


Bagi mereka yang bergelut di bidang pendidikan, tanggal 2 Mei sungguh tidak akan bisa ia lewatkan begitu saja.

Tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara akan selalu dikenang sepanjang masa karena jasa yang telah ditorehkannya.

Hari yang bernilai sejarah tinggi itu akan selalu disakralkan hingga ke anak cucu bangsa secara turun-temurun.

Dunia pendidikan tidak akan pernah mati, berbagai kasus menggelutinya, mulai dari mereka yang terlibat langsung seperti guru, murid, kepala sekolah atau mereka yang tidak terlibat secara langsung seperti pemerintah, baik dari eksekutif maupun legislatif.

Para pendidik juga memilki kisah tersendiri, aksi suap-menyuap untuk mendapatkan gelar Pegawai Negeri Sipil (PNS) seolah sudah dianggap perbuatan yang tidak tabu.

Aksi tidak terhormat ini tidak lagi dilakukan di bawah namun telah menjalar ke atas meja dan dianggap sebagai sarat tidak tertulis.

Terlepas dari pro dan kontra keberlangsungan Ujian Nasional (UN), cerita yang terus bergulir menemani perjalanan UN juga memiliki rating teratas untuk direnungkan.

Tidak percaya dirinya kepala sekolah terhadap anak didiknya sering sekali menjadikan tindak kecurangan merajalela dalam perjalanan UN itu sendiri.

Di lain pihak, tidak meratanya sarana dan prasarana di antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain terus menjadi senjata ampuh untuk menolak UN.

Hal ini diperparah lagi oleh paradigma pendidik yang lebih cendrung mengajar di kota. Desa-desa terisolir yang semestinya lebih diutamakan sering sekali ditinggal pergi oleh pendidik dengan berbagai alasan untuk bisa kembali ke tempat awal pendidik berdomisili.

Walaupun telah diberlakukannya waktu mengajar selama 24 jam perminggu, namun program ini belum mampu memaksimalkan pemerataan pendidikan di Indonesia.

Secara garis besar ada tiga macam sebab runtuhnya citra pendidikan di Indonesia. Pertama, tidak percaya diri. Sikap yang kurang baik ini telah melumpuhkan seluruh civitas akademika pendidikan di Indonesia.

Ia tidak hanya menggerogoti para murid, guru sebagai pelopor pendidikan juga telah terjangkiti, kepala sekolah sebagai ujung tombak dalam sebuah lembaga pendidikan tidak luput dari penyakit yang mematikan kreativitas tersebut.

Cerita contek-menyontek ketika ujian berlangsung, sudah menjadi hal yang jamak. Seorang pendidik membagikan kunci jawaban kepada murid yang sedang melakukan ujian, kepala sekolah yang memiliki tim khusus dalam program lulus 100 persen sekolah yang ia pimpin.

Cerita di atas adalah kisah yang sering dilakoni oleh pemilik mental tidak percaya diri.

Thantaway dalam Kamus Istilah Bimbingan dan Konseling menyebutkan, tidak percaya diri adalah mental diri seseorang yang tidak mampu meyakini kekuatan pada dirinya untuk melakukan kegiatan.

Akhirnya, orang yang memiliki mental tidak percaya diri akan menutup diri karena tidak percaya pada kemampuan yang ia miliki serta memiliki konsep diri yang negatif lainnya (Thantaway, 2005:87).

Banyak beredarnya kunci jawaban ketika UN berlangsung, SMS salah kirim dari teman yang berisi kunci jawaban ujian, longgarnya pengawasan untuk aksi contek-menyontek ketika ujian berlangsung.

Semua cerita di atas sungguh menggiurkan para pemilik mental tidak percaya diri. Namun, bagi mereka yang percaya akan kemampuan mereka sendiri tidak akan terusik oleh segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Bagi mereka, apapun hasil yang akan diperoleh, kejujuran dan rasa percaya diri yang mesti dibanggakan.  

Kedua, penyakit ijazah. Banyak masyarakat di Indonesia begitu mendewakan selembar ijazah. Bagi mereka ijazah adalah segalanya, tanpa ijazah seseorang tidak akan memiliki pekerjaan yang layak.

Tanpa ijazah seseorang tidak akan mampu mengumpulkan pundi-pundi harta yang berlipat ganda. Tanpa ijazah seseorang tidak akan mampu menduduki tahta yang selalu diperebutkan sepanjang masa.

Rendall Collin (1979) meyebut penyakit masyarakat yang digambarkan di atas dengan masyarakat kredensial (credential). Paradigma masyarakat kredensial lebih mengacu kepada ijazah sebagai satu-satunya dalam menentukan keberhasilan seseorang.

Jika ingin memiliki jabatan yang tinggi maka ijazah yang dimiliki juga harus melebihi rata-rata orang yang berada perguruan tingi, jika ingin memiliki harta yang banyak, maka sertifikat dan lisensi juga harus bertumpuk banyak.

Lebih parahnya lagi, pola pikir yang keliru ini disambut hangat oleh lembaga-lembaga pendidikan. Menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal menjadikan penyakit gila ijazah ini semakin tumbuh subur.

Pada awalnya tuntutan masyarakat kredensial tidak akan mejadi permasalahan yang menggerogoti mutu pendidikan  Indonesia. Namun, ketika permintaan gelar meningkat secara drastis, maka kapitalis dan pragmatis akan merenggutnya perlahan-lahan.

Idealis yang pada awalnya terjaga dengan baik harus menerima kenyataan terjatuh ke lembah pragmatisme. Alhasil, hukum ekonomi pasar yang akan memiliki peran penting dalam dunia pendidikan.

Ketiga, pendidikan yang tidak merata. Tidak bisa kita pungkiri tingginya kesenjangan antara pendidikan di kota dengan pendidikan di desa-desa terpencil begitu mencolok.

Pendidik yang mengajar di sekolah-sekolah kota tentu memiliki daya pikir dan kompetensi yang lebih baik dibandingkan dengan pendidik yang mengajar di desa.

Sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah di desa tentu masih kalah jauh bila dibandingkan dengan lengkapnya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah di kota.

Secara gamblang Andrea Hirata pernah menceritakan kesenjangan sekolah-sekolah di Indonesia dalam novel Laskar Pelangi yang fenomenal tersebut. Sekolah Muhammadiah Laskar Pelangi yang ia tempati ketika sekolah dasar sunguh jauh berbeda dengan sekolah PN Timah Belitong.

Dengan momentun Hardiknas tahun ini, mari kita gaungkan kembali nilai-nilai pendidikan yang mulai luntur.

Mari kita bangkitkan kembali semangat yang telah kendur oleh pergolakan zaman. Mari kita persiapkan tetesan air segar pendidikan untuk menghilangkan dahaga di hari kemudian. Mari kita tanam kembali generasi emas untuk dituai di masa mendatang.***

Ade Saputra P Pendidik di Yayasan Pondok Pesantren Alkaromah Aidarusy, Jakarta.

NB: Tulisan ini dimuat di koran Riau Pos Tanggal 05 Juni 2012 (http://www.riaupos.co/opini.php?act=full&id=1001&kat=1)

Senin, 21 Mei 2012

Cerita Duka Dunia Dirgantara



Catatan kelam kembali menyelimuti perjalanan panjang dunia penerbangan bangsa Indonesia. Adalah pesawat komersil Sukhoi Superjet 100 mengalami kehilangan kontak di kawasan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat pada petang Rabu (09/5) beberapa hari yang lalu.
Alhamdulillah, sebelum 1 kali 24 jam lokasi jatuhnya pesawat buatan Rusia itu telah ditemukan. Kecemasan akan terulang kembalinya kisah pesawat Adam Air beberapa waktu lalu ditepis oleh kesigapan para reschue yang selalu mendapat tugas mulia ditengah orang berduka. Sebab, helikopter NAS-332 Super Puma Skuadron Udara 6 Atang Sendjaja telah menemukan dan mampu mengambil gambar lokasi jatuhnya pesawat naas tersebut.
Tangisan para keluarga korban yang tadinya telah berangsur berhenti kini kembali terdengar. Sebab, tim evakuasi yang diestimasikan akan sampai ke titik lokasi pada sore hari Kamis itu (10/5) ternyata tidak mampu menempus lebatnya hutan Gunung Salak yang terkenal sebagai tempat uji nyali para pencinta alam di negeri ini.
 Penulis yang pernah bermalam di kawasan Cidahu, Gunung Salak selama satu minggu ketika pelatihan Korp Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unit Perguruan Tinggi UIN Syarif Hidayatullah beberapa tahun yang lalu, juga merasakan hal yang sama akan kondisi alam yang kurang bersahat di Gunung Salak tersebut. Sebut saja kabut yang selalu menyelimuti di setiap sore, terjalnya pegunungan yang mesti didaki, banyaknya bebatuan yang menyelimuti gunung tersebut dan masih banyak lagi kendala lainnya yang harus dilalui. Maka sangat wajar jika tim evakuasi belum sampai ke titik lokasi  sebagaimana yang telah diestimasikan.

Malang Tak Dapat Ditolak
Orang bijak sering mengatakan “malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat dipinta” mungkin kata-kata itulah yang akan sering terdengar ketika kita membahas kecelakan maut ini. Walau pesawat Sukhoi Superjet 100 memiliki sistem yang sangat canggih seperti yang telah digembar-gemborkan ketika promosinya, namun tetap saja menyisakan luka yang mendalam bagi mereka yang anggota keluarganya terlibat dalam “Joy Fligh” tersebut.
   Alexander Yablonstev dan kopilot Alexander Kochetkop adalah orang yang mengepalai penerbangan tersebut. Mereka berdua sudah dianggap senior dalam dunia penerbangan, maka asumsi yang akan kita berikan ialah setiap aral yang melintang dalam penerbangan akan mampu mereka lewati dengan baik.
  Di lain pihak, kecanggihan Sukhoi Superjet 100 seperti yang dipromosikan, tidak dimungkinkan tanpa memiliki Ground Proximity Warning System (GPWS) atau Terrain Awareness Warning System (TAWS), walaupun keberadaan sistem ini pada pesawat naas tersebut masih menjadi tanda tanya besar bagi para pengamat dunia Dirgantara sebagaimana yang kita saksikan di berbagai media.
Namun tidak  begitu pada kenyataanya, pesawat yang canggih dengan pilot yag terlatih juga menyisakan tragedi yang menyayat hati. Walau pada penerbangan pertama berjalan dengan mulus, namun untuk penerbangan kedua hanya menyisakan kenangan pahit yang sulit untuk dihapus.
Awal mula musibah itu terjadi tatkala pilot meminta izin turun dari ketinggian 10.000 kaki (3.084 meter) ke 6000 kaki (1.829 meter) sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Jendral Perhubungan Udara Herry Bhakti S tentang adanya permintaan izin turun tersebut kepada Air Traffic Control (ATC) tepat setelah 12 menit pesawat yang memiliki kapasitas penumpang antara 75-100 orang ini mengudara dari Bandara Halim Perdanakusuma.
Ya, itulah musibah yang kita tidak tahu kapan datang dan menerpa kita, musibah tidak pernah mau memberikan kabar terlebih dahulu sebelum merenggut sanak saudara kita. Sengaja tuhan rahasiakan ini kepada kepada kita agar kita selalu mempersiapkan diri dengan ibadah serta hati-hati dan waspada.
Mantan Presiden BJ Habibie yang juga ahli kontruksi pesawat terbang ketika diminta mengomentari pesawat pembawa petaka ini hanya menyampaikan, “Bagus, ya desainnya, sayang (di sini) ia peh (tidak beruntung), (Kompas, 11/5).
Faktor keberuntunganlah yang belum berpihak pada pesawat Sukhoi Superjet 100 ini, walau disebut sebagai pesawat modern, efisen secara ekonomi, serta cocok dipasarkan di pasar global oleh tim pembuatnya, namun dewi fortuna masih menjauh dari mereka.

Apa yang Mesti Diprioritaskan?
 Tugas primer yang mesti kita lakukan sekarang adalah menemukan dan mengevakuasi korban, bukan malah memindahkan wacana dan cerita pada seluk-beluk yang lain. Sebut saja mencari faktor penyebab kejadian musibah tersebut, mencari dalang yang mesti bertanggung jawab atas inseden itu, serta mencari sosok orang yang akan dijadikan “kambing hitam” dalam cerita duka itu.  
 Badan Search and Reschue Nasional (BASARNAS), Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) adalah instansi yang mesti didahulukan dalam proses ini, mereka adalah orang-orang yang mesti menjadi garda terdepan dalam musibah ini.
Sejatinya, tim belum diperkenankan mencari kotak hitam (Blak ) sebelum semua korban ditemukan, tim belum boleh mengevakusi jasad pesawat sebelum jasad korban sampai kepada sanak keluarga yang tertimpa musibah. Sebab, dalam aturan pertolongan pertama jiwa manusia lebih berharga dari benda yang mereka bawa.
Wacana yang mesti diusung sekarang adalah bagaimana menemukan dan mengevakuasi korban yang terdaftar dalam rentetan panjang cerita duka dunia Dirgantara, cerita yang mesti dilantunkan saat ini adalah rasa berbelasungkawa terhadap anggota keluarga yang tertimpa cerita duka.
Komisi Nasional Keselematan Transfortasi (KNKT) yang dipercaya dalam mengurus permasalahan transformasi di negeri ini seharusnya tidak berkomentar banyak terlebih dahulu serta memberikan asumsi-asumsi yang membawa publik tergiring dalam opini tersebut. Bukankah pada realitanya dan tradisi yang sudah-sudah, KNKT baru bisa mengumumkan secara resmi tentang permasalahan kecelakaan pesawat terbang setelah beberapa bulan kemudian.
Media yang saat sekarang ini sudah dianggap sebagai “kitab suci”, sejatinya juga membangun wacana tentang penyelamatan korban, bukan mengiring cerita tentang  penyebab celakanya korban, media juga mestinya lebih dahulu memfokuskan mencari korban, bukan mencari “kambing hitam” untuk selanjutnya dikorbankan.
  Pada akhirnya, penulis hanya berharap semoga cerita duka dunia Dirgantara ini kembali pada titik awal yang diprioritaskan, yakni penyelematan dan pengembalian korban kepada sanak keluarga mereka dengan segera, bukan lebih fokus kepada mencari korban berikutnya. Kemudian ketika penyelidikan nanti dilakukan, semangat yang dibangun adalah semangat untuk mencegah terulangnya musibah serupa, bukan semangat menemukan dan menghukum berat siapa yang bersalah.     
Penulis adalah Ade Saputra Piliang (Humas Yayasan Alkaromah Aidarusy, Jakarta, aktif di KSR PMI Unit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2009-2011, asal Riau).


NB: Tulisan ini dimuat pada koran Riau Pos tanggal 12 Mei 2012 (http://www.riaupos.co/opini.php?act=full&id=930&kat=1)

 

Selasa, 01 Mei 2012

TERIMA KASIH BAPAK BUPATI



Pada tanggal 13 April 2012, masyarakat Bandur Picak Kecamatan Koto Kampar Hulu menikmati dengan penuh suka cita acara tasyakuran dan peresmian lokal baru Pondok Pesantren Miftahul Mu’arif, Desa Bandur Picak. Kegembiraan itu ditambah lagi dengan hadirnya orang nomor wahid di negeri Serambi Mekkahnya Riau itu, yakni bapak Bupati Kampar, H. Jefri Noer.
Tidak bisa dipungkiri, letak desa Bandur Picak sungguh berada jauh terisolir dari ibukota kabupaten Kampar. Hal ini bisa dibuktikan dengan terdapatnya Kabupaten Rokan Hulu dan Provinsi Sumatera Barat sebagai  batas yang mengelilingi desa tersebut dari sebelah Barat dan Utara .
Jauh dari ibukota pemerintahan adalah salah satu indikasi untuk jauh juga dari pembangunan yang membanggakan. Ini bisa dilihat dengan jalan desa kami yang selalu berlobang dan berlumpur, bahkan kondisi jalan yang seperti ini tidak hanya di desa kami saja, namun telah menjalar ke seluruh kecamatan Koto Kampar Hulu. Yakni, ketika musim hujan datang, air siap membanjiri setiap sudut jalan raya.
 Keadaan ini diperparah lagi dengan lampu PLN yang mengalir di Kecamatan kami pada umumnnya tersendat-sendat alirannya. Bahkan, tidak jarang listrik kami mati seharian total. Kami yang seharusnya dianak emaskan karena sungai yang melintasi desa kami dijadikan waduk pembangunan pembangkit listrik tersebut, malah harus menerima kenyataan untuk dianak tirikan.
Kadatangan bapak Bupati adalah sebuah langkah awal untuk pembangunan yang lebih baik di tempat kami. Kami yakin dan percaya kedatangan bapak kesini, berbaur bersama kami, duduk dan makan bersama kami, adalah salah satu bukti nyata bapak peduli, salah satu tanda bapak mau menyelami keluh-kesah kami.
 Dalam sebuah ceramahnya, Ust Yusuf Mansur pernah mengatakan “Kenapa seseorang enggan untuk bersedekah? Karena dia tidak pernah merasakan miskin”. Kalau kita analogikan kepada sebuah pemerintahan, kenapa para pejabat di pemerintahan pelit dalam  memberikan bantuan? Itu tidak lain dan tidak bukan, karena mereka hanya menunggu dibalik meja. Mereka tidak pernah berbaur dan merasakan rintihan perih masyarakatnya.
Sekarang penentu kebijakan itu telah datang menemui kami, telah menyaksikan lobang dan berlumpurya jalan kami, telah mendengarkan keluhan anak cucu kami, merasakan dan melihat terisolirnya desa kami. Maka, kami yakin pembangunan yang kami idam-idamkan akan segera terwujud.
Terima kasih bapak Bupati, terimah kasih telah datang ke tempat kami, terima kasih telah mendengarkan ratapan nasib kami, terima kasih telah merasakan pedihnya penderitaan kami, terima kasih telah menyelami dan berbaur bersama kami. Semoga dengan bapak melihat langsung kondisi kami, rasa prihatian selalu tergugah untuk memperhatikan nasib kami. 

Ket: Tulisan ini dimuat di Koran Riau Pos pada tanggal 17 April 2012 ( http://www.riaupos.co/opini.php?act=full&id=848&kat=3)

Sabtu, 03 Maret 2012

Menanti Kunci Nunun Nurbaiti


Menjelang berakhirnya masa bakti Busyro Muqoddas dan kawan-kawan, ada kado istimewa yang mereka berikan untuk republik ini. Aktor utama dalam kasus pemberian cek perjalanan pada pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia menuai jalan terang setelah sekian lama sempat buntu.
Nunun Nurbaiti sebagai penyandang dana dalam dugaan penyuapan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat tahun 2004 berhasil ditemukan setelah sekian lama menghilang bak ditelan bumi. Dugaan suap yang Nunun lakukan terkait dengan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia yang dimenangi Miranda S Goeltom. Nunun Nurbaiti diduga membagi-bagikan uang kepada anggota komisi XI DPR periode 1999-2004 demi memuluskan laju perjalanan Miranda menakhodai biduk Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Nunun ditangkap KPK, Sabtu 10 Desember 2011, di pesawat Garuda yang menerbangkan Nunun dari Bangkok, Thailand ke Jakarta. Nunun ditangkap kepolisian Thailand pada Rabu Malam 7 Desember, tepatnya disebuah rumah berlantai dua yang disewa Nunun di distrik Suphan Sung, Bangkok. Sebelum diserahkan ke KPK Nunun ditahan di Safe House  Milik kepolisian Thailand
Sayang seribu sayang Nunun yang  kita nanti untuk membongkar semua kebobrokan pada pemilihan DGS itu belum bisa memberikan keterangan lebih mendalam. Saat diperiksa KPK, kondisi Nunun melemah dan kolaps. Akhirnya Istri Adang Daradjatun itu dilarikan ke Rumah Sakit Metropoilitan Medical Center, Kuningan, Jakarta sebelum dipindahkan ke RS polri Kramat Jati.  
Kita berharap tidak ada rekayasa dalam kasus ini, semuanya berjalan  terbuka dan apa adanya. Kita berharap Nunun bisa terbuka dan kooperatif sehingga KPK bisa menemukan dalang yang mengatur skenario pemberian cek perjalanan melalui Nunun. Semoga dengan tertangkapnya aktor utama dalam kasus ini bisa memberikan terowongan panjang untuk mencari aktor intelektual kasus pemberian cek perjalanan itu.
Masyarakat tidak ingin kasus ini berhenti di Istri Adang Daradjatun saja tapi masyarakat ingin mengetahui siapa saja yang diuntungkan dengan pemberian cek perjalanan itu. Rakyat selalu berharap aktor intelektualnya juga bisa disentuh hukum, KPK tidak hanya bisa membumi hanguskan korupsi-korupsi yang dilakukan kelas terinya saja. Namun, kelas kakapnya juga bisa dijerumuskan kedalam jeruji besi.


Jumat, 02 Maret 2012

Surat Kecil untuk Ibu


Dalam sebuah keluarga  ibu sering diidentikkan sebagai  “Manager”  rumah tangga. Entah itu manager dalam bidang keuangan ataupun manager SDM.   Secara keuangan ibu atau istri adalah orang yang selalu mampu menentukan mana yang menjadi prioritas utama dalam rumah tangga. Ibu akan lebih banyak memikirkan kondisi keungangan keluarga, ibu akan lebih banyak mengendalikan keungan yang telah dihasilkan sang ayah, ia harus berfikir seribu kali dulu sebelum membelanjakan uang hasil kerja keras suaminya tersebut. 
Dalam bidang pengembangan sumber daya manusia keluarga,  ibu adalah yang lebih banyak mengetahui perkembangan anak-anaknya. Semua perkembangan yang seseorang lalui ibulah yang paling awal mengetahuinya. Mulai dari memberikan nutrisi sejak mengandung hingga mengajarkan banyak hal buat anak untuk menggapai impiannya.
Ketika mengandung, ibu sudah berupaya keras memberikan nutrisi yang terbaik untuk janin. Begitu pula ketika bayi telah lahir, ibu terus memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, ibu juga tak pernah lelah untuk mendidik dan mengajari berbagai hal kepada anaknya. Ibu selalu bersabar dan berharap menanti tumbuh kembang anaknya.
Ibu adalah orang pertama yang mengajari banyak hal, mulai dari duduk, berdiri, berjalan, berlari dan bahkan membaca serta menulis. Ibu pula yang “membentuk” Karakter anak dengan pola didiknya. Maka tidak heran banyak orang yang sering berujar dengan bangga mengatakan “di balik kesuksesan seseorang selalu ada peran wanita di belakangnya” Wanita disini bisa diterjemahkan sebagai ibu ataupun istri.
Salah satu tauladan yang bisa kita tiru adalah Martha Tilaar, sebagai owner dan founder Martha Tilaar Group tidak hanya sukses membangun kerajaan bisnis kosmetika hingga ke mancanegara, namun ibu ini juga sukses mengantarkan sang anak (Wulan Tilaar) ke jenjang pendidikan tinggi hingga post graduate dari Boston University di Amerika Serikat
Selain itu, tentu masih banyak ibu Martha Tilaar yang lainnya. Sosok ibu yang selalu mementingkan kebutuhan anaknya. Sosok ibu yang peduli terhadap perkembangan anak-anaknya. Sosok ibu yang rela berkorban apa saja untuk anaknya, sosok ibu yang selalu setia mengantarkan sang buah hati hingga ke punjak tertinggi yang bisa diraihnya.
Bukan seorang ibu yang bisa menyuap hakim dan jaksa demi menjaga aset kekayaan yang terus mempesona, bukan pula ibu yang leluasa membagi-bagikan cek perjalanan untuk para Anggota DPR hanya untuk mendapatkan kedudukan strategis di negara. Tidak  juga ibu yang harus melarikan diri ke berbagai negara hanya untuk melindungi sejumlah dokumen rahasia yang ia ketahui. 
Bukan pula ibu yang rela menggugurkan janinnya dalam kandungan hanya karena  takut terbukanya aib yang telah ia lakukan, bukan pula ibu yang dengan tega membuang anaknya di bak sampah karena tak tahu siapa ayah biologis sang anak sebenarnya. Apalagi ibu yang rela memberikan racun di dalam makanan anak-anaknya hanya karena tak kuasa lagi menjalani hidup yang terus melilit.
Pada momen hari ibu tahun ini, sudah sepantasnya seorang ibu kembali kepada kodrat nya sebagai wanita, ibu yang selalu mengucurkan peluh untuk anak agar bisa menjadi tawa bahagia. Ibu yang selalu mempersembahkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ibu yang mampu memanejemen anggota keluarganya demi satu tujuan yakni keluarga sakinah, mawaddah, warohmah.