Kutemukan Karya dan Cinta di FLP
Oleh : Ade Saputra Piliang.
Salam kepenulisan untuk kita semua.
Puji Syukur kepada tuhan Allah yang selalu memberikan rahmat dan nikmat, shalawat dan salam untuk nabi muhamad saw, sebagai editor al-Qur’an yang ditulis oleh zaid bin tsabit.
Saya sangat kaget ketika mendapat sms dari kementrian pendidikan dan kebudayaan FLP Ciputat, dalam hati saya bertanya, kenapa harus saya yang menulis di modul FLP ini. Masih banyak penulis-penulis lain yang sudah banyak merasakan asam garamnya dunia pena dan tinta ini.
Kalau boleh jujur, saya bukanlah insan yang pengen jadi penulis, saya bukanlah orang yang suka membaca buku. Sejak saya dilahirkan kebumi Allah swt ini. Mungkin, saya belum sampai membeli 50 buah buku. Ya, kalau baca buku paling cuma minjam sama teman atau ke perpustakaan.
Sampai malam inaugurasipun aku masih belum percaya dan yakin bahwa jalan hidupku ini adalah seorang penulis. Aku belum yakin bisa menjadi kuli tinta, aku belum percaya dengan coretan-coretanku yang terlalu kaku. Ketika kegalauan itu menghampiri, bang “boim lebon” memberikan sebuah sinar pencerahan, beliau menjelaskan bahwa menjadi penulis itu butuh proses. Semakin sering kita menulis maka coretan-coretan tersebut akan semakin bermakna dan indah. Jalani proses maka anda akan menemukan buah diakhirnya.
Selain berkarya ada satu lagi yang saya dapatkan di FLP ini, ada cinta diantara para anggotanya, mengutip dari kata-katanya mbak Lina Marlina “Di FLP Ciputat kutemukan saudara sepenanggungan dikala sedih (kalau lagi pada bokek, royalti nggak turun-turun) dan senang (royali turun, tulisan tembus, bisa traktir atau ditraktir) ^_^.” Tertawa bersama, menangis bersama. Merasa bangga ketika tulisan teman yang lain tembus sementara tulisan kita tidak. He.. he...
Secara umum, ada dua macam yang aku dapatkan di FLP Ciputat ini, emosional dan Profesional, secara emosional saya bisa merasakan akrabnya kekerabatan diantara para anggotanya. Secara profesional aku bisa melihat betapa setiap anggota wajib menulis di media-media, menjadi pengkritik, dan sebagai mentor atau bahkan menjadi pembicara dalam acara-acara kepenulisan. Setiap anggota ditentukan level mereka, ada Pramuda, Muda, Madya, dan Handal. Ketika kita ingin lebih baik tentu profesionalitas tentu harus dilambungkan. Semua itu bukan hal yang mudah tentunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar